RSS Feed

Aku Ingin Pulang

Posted on

AKU INGIN PULANG

Robby berdiri di depan telepon umum, tangannya ragu-ragu mengangkat gagang tetepon. Ia berfikir sejenak sebelum menekan angka-angka yang masih diingatnya. Tak lama terdengar nada sambung nun jauh disana, tapi hanya sesaat kemudian ia menutup kembali telepon itu.  Ia ragu, ia takut, ia tak tahu harus bicara apa bila telpon di seberang sana ada yang mengangkatnya.  Tubuhnya memang sedikit gemetaran, ia haus dan hari ini tak banyak yang ia makan.  Ia berharap bisa menelpon seseorang yang dapat membantunya keluar dari semua masalah ini.  Tapi ya itu, dia masih takut dan ragu.  Mungkinkah orang-orang itu mau menerimanya atau menolongnya walau hanya sesaat.  Ia tak berharap banyak.  Ia tak layak menerima pertolongan siapapun.

Lambat laun ia meninggalkan tempat itu dan berjalan gontai menyusuri malam yang semakin gelap dan dingin.  Ia tak tahu lagi harus kemana.  Ia tak memiliki apa-apa lagi. Bahkan baju yang dipakai pun sudah lusuh dan compang-camping.  Ia hanya berharap malam ini dapat tidur nyenyak.

Di sebuah emperan toko ia menyandarkan dirinya.  Menatap langit kota Jakarta yag gelap tanpa bintang.  Ia tak tahu harus menyesal atau mendendam.  Tapi satu hal yang ia sadari adalah bahwa ia telah salah jalan.

Maya, wanita cantik dan seksi itu tak mau lagi menerimanya setelah ia bangkrut dan tak memiliki apa-apa lagi.  Yang lebih menyakitkan baginya, wanita itu malah selingkuh dengan rekan bisnisnya yang sudah tua dan bau tanah.  Dasar perempuan matre, makinya dalam hati. Kalau juga bukan wanita itu tentu hidupnya tak begini sekarang.  Seandainya semua orang tahu siapa dirinya sekarang tentu mereka akan menertawakannya dan menghinanya.  Itulah sifat dasar manusia, habis manis sepah dibuang.

Ia berusaha memejamkan matanya dan melupakan semua masa lalunya.  Sayang, ia tak mampu mengendalikannya sehingga hatinya semakin terasa sakit.  Dan kalau bukan karena malu pada keadaan sekitar tentu ia sudah menangis tersedu-sedu.

Sebenarnya ia tidak perlu begini kalau saja ia mendengarkan nasehat ayahnya dan juga Indah, istrinya yang polos dan lugu itu.  Namun sepertinya rayuan Maya dan daya pikat wanita itu tak mampu membuatnya berfikir rasional.  Akhirnya ia menjual semua harta warisannya dan memperbesar usahanya di Jakarta.  Ia  tak menyangka kalau usaha yang dirintisnya bertahun-tahun itu akhirnya jatuh bangkrut.  Lebih menyakitkan lagi bagi dirinya ternyata Maya sekongkol menghancurkannya untuk morotin harta kekayaaannya. Rumah, mobil dan seluruh harta kekayaannya kini lenyap sudah.  Rekan-rekan bisnisnya meninggalkannya dan tak percaya lagi padanya.  Semuanya akibat racun berbisa yang dilepaskan oleh Maya padanya.  Sial, kenapa ia harus jatuh cinta pada wanita itu dan mempercayainya.

Tapi menyesal kemudian adalah tidak berguna.  Sekarang ia tak tahu harus kemana.  Ia tak berani pulang karena telah mengkhianati seluruh keluarganya. Bahkan waktu itu ia sangat membenci mereka, karena menghalang-halangi kemauannya.

“Dasar anak durhaka, Ibu tak akan memaafkanmu lagi!” Kata ibunya waktu itu.

Mungkin.  Mungkin ia telah durhaka dan layak menerima semua hukuman ini.

Akhirnya menitik juga dua butir air mata di pipinya.

“Maafkan saya Bu, Ayah, Indah.  Saya ingin pulang…”

Sebenarnya jarak antara Jakarta dan Bogor tak begitu jauh.  Ia bisa saja pulang kalau ia mau kapan saja.  Tapi masalahnya, kepergiannya dari rumah untuk memperbesar usahanya telah menimbulkan pertengkaran yang hebat.  Ia memaksa ayah dan ibunya menjual tanah warisannya dan memakainya untuk modal. Walau semua orang tidak setuju tapi akhirnya mereka juga tak berdaya dan menyerah.  Ia mencampakan Indah istrinya demi hidup bersama dengan Maya. Tentu saja semuanya marah dan menganggap dia keterlaluan. Yang jelas, kepergiaannya dari rumah tak mendapatkan restu dari siapapun.

“Pergilah, bawa semua yang kau ingini, tapi jangan menyesal nanti,” Maki ayahnya.

“Tidak.  Saya tidak akan menyesal,” Jawabnya ketus.

Namun kini semuanya benar.  Ia menyesal dan menyesal.  Tapi tak ada gunanya lagi. Semua hartanya sudah habis, bahkan ia tak punya lagi tempat untuk berteduh.  Tak mungkin ia  kembali kepada ayah dan ibunya, mereka pasti masih marah padanya.  Atau kembali pada Indah istrinya, mungkin juga ia telah menikah lagi dan hidup bahagia.

Akhirnya Robby tertidur juga membawa kesesakan hatinya.

Sebenarnya ia hanya ingin tidur dan tidur lagi.  Tubuhnya letih, pikirannya capek.  Ia sudah bosan menjalani hidup jadi gelandangan seperti ini.  Tapi ia malu juga kalau siang-siang masih tertidur di depan toko orang.  Ia juga takut kalau-kalau ada orang yang mengenalinya sehingga mereka bisa menertawakannya atau menghinanya.

Ia tak tahu lagi harus jalan kemana.  Perutnya terasa lapar sejak kemarin. Dengan memberanikan diri ia berhasil meminta sebungkus nasi pada sebuah warung nasi di sisi jalan. Memang cuma nasi dan kuah sayur tanpa lauk,tapi ia sangat bersyukur.  Walau kenyataannya ia semakin sedih saja.  Sebab ia tahu ayahnya seorang koki dan memiliki restaurant yang bagus di Cipanas.  Pasti banyak makanan disana, yang enak-enak tentunya tanpa ia harus meminta atau membelinya.  Ia tidak tahu mengapa harus jadi bodoh begini.  Sementara makanan di rumah ayahnya melimpah ruah, ia harus meminta-minta, bahkan untuk sesuap nasi.

Dengan lahap ia menyantap makanannya, disertai rasa kesedihan yang mendalam dan penyesalan yang tiada akhirnya.  Entah sampai kapan ia harus hidup begini.  Berapa lama lagi ia harus jadi gelandangan.  Sanggupkah ia membawa semua penyesalannya pulang?  Ia tidak tahu.  Yang ia tahu sekarang adalah ia lapar dan lapar.

Seorang pengemis, wanita tua yang duduk di sebelahnya memperhatikannya.

“Kau tinggal dimana?” Tanya wanita itu pelan.

“Saya tak punya tempat tinggal Nek,” Jawabnya sambil makan.

“Keluargamu dimana?”

Robby terdiam.  Ia meneguk minumnya dari sebuah kantong plastik.

“Nenek juga tidak punya keluarga lagi, hidup sebatang kara. Sejak suami Nenek meninggal, Nenek tak tahu harus kemana.  Hanya jadi pengemis, kadang-kadang jadi pemulung untuk menyambung hidup. Menunggu ajal menjemput. Kau masih muda, sebaiknya cari keluargamu.”

“Saya juga ingin pulang Nek,” Akhirnya Robby mengeluarkan uneg-unegnya juga. Tak ada salahnya ia curhat pada pengemis tua itu.  Selama ini tak ada seorangpun yang pernah mendengarkan dia.  ”Tapi saya takut,saya telah berdosa terhadap orangtua dan istri saya.”

“Jangan berkata begitu,mungkin mereka juga merindukanmu.  Memang apa salahmu?”

“Saya telah menjual harta orangtua saya Nek.  Semua uangnya saya pakai untuk modal dan menikah lagi dengan seorang perempuan.  Mereka sangat marah waktu itu, tapi saya lebih marah lagi karena keinginan saya dihalangi.  Bahkan ibu saya berkata tak akan memaafkan saya. Sekarang, perempuan itu meninggalkan saya dan pergi dengan lelaki lain setelah saya jatuh dan bangkrut.  Teman-teman tak ada yang menolong saya.  Semua harta saya ludes tak bersisa.  Jadilah saya seperti ini.”

“Kasihan…tapi lebih baik kamu pulang, Nak. Nenek yakin mereka akan memaafkan kesalahanmu.  Tak baik hidup seperti ini.  Kamu masih punya harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Kalaupun mereka tak memaafkanmu, tak apa. Tapi kamu harus memulai hidup yang baru lagi. Jadi manusia yang saleh dan jujur.  Pasti Tuhan akan menolongmu.”

Robby terdiam.  Dia bergumul dengan dirinya sendiri.  Entah apa yang dia pilih.

Ia meninggalkan nenek itu sendirian dan pergi tanpa kata-kata.  Si Nenek tersenyum memandangi kepergiannya.  Sepanjang  jalan ia hanya merenung dan merenung.  Tapi ia terus menerus berjalan walau ia mulai merasa haus lagi.  Ia berhenti sejenak tatkala melihat sebuah telepon umum.  Ia merogoh saku celananya.  Masih ada dua keping uang lima ratusan. Ia berjalan mendekati telepon umum itu.

Ia kembali ragu-ragu saat mengangkat gagang telepon dan memutar angka-angkanya. Kalau bukan dorongan dari nenek tadi ia pasti mengurungkan niatnya untuk menelpon. Dengan perasaan yang tak menentu akhirnya ia menunggu jawaban dari seberang sana.  Ia berharap bisa bicara sebentar, menunggu jawaban lalu menutup telponnya lagi.

“Halo,ini siapa?” Tanya seorang wanita dari sana.

“Saya…Robby,bolehkah…saya pulang…?” Katanya gemetaran.

“Datanglah tanggal satu Juli ke restaurant.”

“Saya…” Robby tak dapat melanjutkan kata-katanya.  Ia bingung dan takut.  Ia tak tahu siapa yang menjawab telpon tadi.  Ia menutup telponnya tanpa mendapatkan keyakinan dari hatinya.

Robby melanjutkan langkahnya menyusuri jalan.  Ia tak yakin kalau suara tadi menantinya pada tanggal satu Juli. Memang ada apa pada tanggal satu Juli di restaurant ayahnya? Ataukah orang tadi salah mengira dia, sehingga jawabannya sebenarnya bukan untuk dirinya. Mana mungkin secepat itu ia mendapat jawaban padahal ia belum sempat bicara apa-apa lagi. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, sejak ia meninggalkan rumahnya. Tapi apakah mereka selalu menanti kepulangannya?

Ia sendiri sulit memaafkan kesalahannya, bagaimana dengan ayah, ibu dan istrinya. Apakah semudah itu mereka memaafkan dirinya.  Ah, mana mungkin itu terjadi.  Tapi harus bagaimana lagi?  Dia sudah capek jadi gelandangan dan hidup tak menentu.  Hari-harinya bagaikan di neraka.  Setiap hari ia harus sembunyi takut dikenali orang.  Bahkan ia tak berani bercermin memandang dirinya sendiri.  Dia harus mengambil keputusan, apapun resikonya. Dia bersalah. Dia berdosa.  Layak mendapatkan hukuman apapun.

Mungkin ia masih sanggup menghadap ayahnya, tapi istrinya? Ia malah takut kalau ternyata istrinya sudah tak ada lagi, menikah dengan lelaki lain dan hidup bahagia sekarang. Bagaimanapun juga ia pasti cemburu, walau ia telah mencampakannya begitu saja.  Dalam hatinya yang terdalam ia tetap mengharapkan kesetiaan istrinya walaupun ia sendiri tak setia. Ia tetap menharapkan cinta dan kasih sayang Indah, walau waktu itu ia membencinya habis-habisan. Inilah egoisnya dia. Maunya menerima yang enak-enak saja, padahal ia memperlakukan orang lain dengan jahat.

Diluar segala kemungkinan yang bakal terjadi padanya, ia tak memungkiri hatinya, bahwa kerinduannya untuk pulang tak tertahankan lagi.  Dia berharap bahwa rumah ayahnya adalah tempat dimana dia bisa menemukan keselamatan dan kedamaian dalam hidupnya.  Tak ada lagi yang diingininya sekarang selain pulang dan pulang.  Walau ia juga merasa takut dan takut menghadapi kenyataan yang bakal terjadi.

Dalam pergumulan hatinya ia mereka-reka, kata-kata apa yang akan dikatakannya pada kedua orangtuanya bila pulang nanti.  Atau ucapan apa yang tepat yang harus dia katakan kepada Indah, istrinya.  Di pikirannya ia banyak menyusun kata-kata itu, ia juga menyiapkan hatinya untuk ikhlas menerima cacian atau makian apapun.  Bahkan ia rela kalau dirinya diusir lagi.  Ia memang telah bersalah dan layak mendapatkan hukuman yang berat sekalipun.

“Ayah, Ibu, ampunilah saya karena telah menyakiti hati kalian. Saya memang anak durhaka, saya tak layak diampuni, dosa saya terlalu besar untuk dimaafkan. Tapi izinkanlah saya minta maaf kali ini, setelah itu saya tidak diterima lagi pun disini tak apa-apa. Saya hanya ingin Ayah dan Ibu tahu bahwa saya menyesal…”

Kalimat-kalimat seperti itu keluar terus dari dalam hatinya.  Ia berusaha menghapalnya. Kadang-kadang ia mengedit kalimat-kalimat seperti itu dan menggantinya dengan kata-kata yang difikirnya lebih baik lagi.

Juga kepada istrinya ia akan berkata, ”Istriku terima kasih sudah mau mencintaiku selama ini.  Ampunilah saya yang telah mengkhianati cintamu dan mencampakanmu dengan keji. Ampunilah saya.  Saya tak layak lagi hidup denganmu.  Carilah lelaki lain yang bertanggung jawab, menikahlah lagi dan hiduplah dengan bahagia. Karena saya tak dapat membahagiakanmu, malah lebih banyak menyakitimu selama ini.  Saya tak ingin melihatmu menderita lagi. Asal kamu mau mengampuni saya, apapun keputusanmu tak akan kuhalangi…”

Kepada ayahnya ia akan memohon, ”Tak apa bila ayah tak mau menerima saya lagi, tapi izinkanlah saya bekerja di restaurant ayah supaya saya bisa dapat makanan.  Nanti kalau saya sudah dapat pekerjaan lagi, saya rela kalau harus pergi dari sini.  Tidak digaji pun tak mengapa, daripada saya harus menjadi gelandangan dan meminta-minta makanan pada orang lain.”

Ia juga akan mencium kaki ibunya dan bersujud padanya, ”Ibu…kalaupun Ibu tak memaafkan saya, saya tak memaksa.  Memang saya anak durhaka yang tak pantas diampuni. Tapi kasihanilah saya, saya hidup sengsara sekarang.  Tak memiliki apa-apa lagi.  Kalau boleh izinkanlah saya tinggal di rumah ini walau hanya beberapa saat sampai saya dapat pekerjaaan dan bisa mengontrak rumah untuk tempat tinggal.”

Berkali-kali ia merangkai kalimat-kalimat itu. Sampai ia tak tahu kalau hari akhirnya sudah jauh malam.  Dan hari ini ia hanya makan sekali, itupun sudah sangat bersyukur.  Tapi besok, apapun yang terjadi ia harus pulang juga ke rumah.  Setidaknya ia akan menemukan kepastian dalam jalan hidupnya.  Harus terus mengembara lagi seperti ini atau bisa tinggal barang sesaat di rumah ayahnya.

Tanggal satu Juli adalah besok, setidaknya itu yang dikatakan orang saat dia bertanya tadi. Karena sudah hampir satu bulan ia tidak tahu lagi waktu:jam atau tanggal berapa.  Bahkan ia juga lupa kalau ini adalah bulan Juni dan besok adalah Juli.  Untung belum kelewat dari tanggal satu.  Jadi besok ia masih memiliki harapan untuk bisa datang ke restaurant ayahnya.

Subuh-subuh ia menyetop mobil pick up untuk mendapat tumpangan ke Bogor.  Entah sudah berapa lama ia menyetop tapi tak ada yang mau memberinya tumpangan.  Untunglah saat hari menjelang siang ada juga yang mau memberinya tumpangan.  Dan ia duduk termenung di belakang sambil melamun, membayangkan apa yang akan terjadi hari ini.

Dari Bogor ia melanjutkan perjalanannya ke arah Puncak, juga dengan menumpang sebuah mobil pick up.  Walaupun hari ini ia belum makan ataupun minum apa-apa tapi ia tak merasa lapar.  Pikirannya menyita banyak perhatian sehingga ia tak memikirkan perut dan mulutnya lagi.

Menjelang sore ia tiba di depan restauran ayahnya, ia hanya melihatnya saja dari kejauhan. Ramai sekali tamu hari itu. Tampak ayahnya mondar mandir menyapa ramah para pengunjung.  Tak jauh dari ayahnya ia melihat seorang wanita cantik yang belum pernah dilihatnya selama ini. Mungkihkah itu pegawai baru ayahnya. Wanita yang putih kulitnya, tinggi semampai, bersanggul dan berpakaian rapi sekali.  Wajahnya dirias, tidak seperti Indah yang tak pernah berdandan.  Entah mengapa ia tertarik pada wanita itu. Tapi, wanita itu menuntun seorang anak lelaki kecil berusia dua tahunan.  Dan…anak lelaki itu malah minta digendong oleh ayahnya.  Hei, siapakah wanita itu.

Ayahnya yang menggendong anak itu menyempatkan diri keluar, ia menatap dirinya sejenak dari seberang jalan. Masihkan ayahnya mengenalinya lagi?  Tentu tidak, pikirnya. Badannya sekarang kurus kerempeng, digerogoti pikiran dan perasaannya sendiri. Kumis, jenggotnya tumbuh lebat menutupi wajahnya.  Tak mungkin ayah akan mengenalinya lagi, pikirnya.

Hari mulai malam, tapi aneh, tamu-tamu itu bertambah banyak dan tak ada satupun yang pergi.  Ia tak dapat memberanikan dirinya menghampiri tempat itu.  Berjam-jam lamanya ia hanya duduk di pinggir jalan memandangi mereka.  Ia terkejut tatkala ayahnya dengan dua orang pegawainya menyebrang jalan dan menghampirinya.  Ia mulai gemetaran.  Apalagi saat ayahnya berdiri di hadapannya dan memandanginya tajam.

“Robby?”

“Ayah…”

Robby berdiri dan hendak memeluk ayahnya, ia ingin sekali bicara dan meminta maaf padanya.  Tapi ayahnya menyuruh kedua pegawainya membawanya dan mengurusnya.  Ia malah terkejut melihat sikap dingin ayahnya.

“Bawa Robby ke dalam dan urus dia dengan baik secepatnya!” Perintah ayahnya.

“Tapi…Ayah…”

Ayahnya hanya diam dan membiarkannya.  Dua orang itu menggandengnya dan segera membawanya ke dalam lewat jalan belakang.  Ia menatap ayahnya yang dingin dengan terheran-heran. Jangan-jangan dia akan dianiaya,pikirnya. Namun tanpa sepengetahuannya, lelaki tua itu menitikan air matanya.  Lalu kembali ke dalam restauran.

Tak ada  yang mau bicara padanya, semuanya diam.  Dia dimandikan dan pakaiannya diganti.  Bahkan tak ada yang mau menjawab pertanyaannya.  Tahu-tahu ia sudah memakai jas yang indah.  Wanita cantik yang tadi dilihatnya menengoknya barang sejenak sambil menggendong anaknya.  Wanita itu tersenyum.  Ia malah menjadi gugup.

Ayahnya menjemputnya dan memeluknya dengan erat tanpa mengatakan sepatah katapun. Lalu lelaki tua itu menuntunnya ke tengah-tengah ruangan di restauran itu.  Ia semakin tak mengerti, apa yang terjadi.  Tampak wanita cantik itu menunggu di tengah-tengah ruangan bersama anaknya.  Saat ia masuk semua orang dalam ruangan itu berdiri.

“Ayah…” Katanya bingung.

“Diamlah, jangan bicara!” Ayahnya menghardik.

Wanita cantik itu matanya mulai memerah sambil menatapi sebuah kue tart di hadapannya bersama anaknya.  Sementara ayahnya membawanya ke tengah dan berdiri diantara dia dan wanita cantik itu.  Ayahnya mengangkat tangan tinggi-tinggi dan matanya mulai berkaca-kaca.  Badannya gemetaran.

Ayahnya bicara keras, ”Anakku Pulang!”

Semua yang hadir di tempat itu bertepuk tangan meriah tak hent-henti.  Bahkan para wanita tampak kelihatan terharu.  Ayahnya menangis, wanita cantik itu juga.  Perlahan ia juga mulai terharu.  Ia tak mengerti, ia belum bicara apa-apa kepada keluarganya, tapi ia telah disambut dengan pesta meriah.  Ia belum meminta maaf, tetapi ayahnya telah mengampuninya.

Ayahnya memeluknya erat.

“Ayah kangen, Robby…” Katanya sambil tersedu.

Robby tak kuasa menahan haru.

Wanita cantik itu juga menghampirinya, memegang wajahnya.  Ia mulai gemetaran.  Ia tambah terkejut saat wanita itu mencium keningnya dan kedua pipinya. Yang lebih mengejutkan dia lagi adalah karena wanita itu memeluknya erat.  Dia semakin gemetaran dibuatnya.

“Kang…Indah juga kangen sama Kang Robby…” Kata Wanita itu.

Hah? Indah?  Jadi wanita cantik itu adalah Indah?  Robby tambah tak kuasa menahan lututnya yang semakin lemas.  Ia menangis kini.

Tepuk tangan semakin meriah.  Orang-orang mulai semakin banyak yang terharu.

Anak kecil itu juga menghampirinya.

“Ini anak kita Kang…”

Robby semakin terkejut dibuatnya.  Rupanya Indah tengah hamil saat ditinggalkannya.

“Anakku telah hilang, tapi sekarang dia kembali.  Mari kita rayakan!” Seru ayahnya.

Seorang pemuda memetik gitar dan menyanyikan lagu ”Selamat Ulang Tahun.” Semua orang yang hadir mengikutinya bernyanyi.  Lalu Indah mengambil kue tart yang sudah berisi lilin yang menyala dan menyodorkannya padanya.

“Tiuplah…bukankah ini hari ulang tahun Kang Robby…” Katanya.

Ragu-ragu Robby meniupnya.  Ia baru sadar kini kalau tanggal satu Juli adalah hari ulang tahunnya.  Semua orang menyambutnya meriah.  Ia memotong kue dan memberikannya pada Indah, lalu ayahnya, lalu kepada anaknya juga.  Dan semua orang datang menyalami dan memeluknya.  Ia pun mulai mengenali beberapa wajah orang-orang itu.

Dunia ini memang aneh dan penuh misteri dan tak bisa lagi dipahami dengan akal sehat. Setidaknya demikianlah bagi hidup Robby.  Dia tak pernah mengerti mengapa ayahnya malah menyiapkan pesta ulang tahunnya saat ia belum meminta maaf sekalipun.  Mengapa Indah setia menunggu lelaki bajingan macam dia. Mengapa orang-orang malah menyambutnya hangat saat ia kembali padahal mereka semua tahu bahwa ia adalah anak durhaka.  Apakah masih ada cinta sejati di dunia ini?

Akhirnya ia sadar bahwa ayahnya, ibunya dan Indah adalah orang-orang yang mencintainya dengan tulus.  Bertahun-tahun mereka menunggu kepulangannya. Bahkan setiap tanggal satu Juli Indah selalu menunggu dia kembali.  Mereka sering duduk-duduk sampai jauh malam, menunggu telpon berdering, berharap ia akan menelpon ke rumah.

Bahkan ibunya sampai jatuh sakit dan meninggal akibat merindukannya.

“Kalau Robby pulang,bilang Ibu kangen padanya. Ibu sudah memaafkan kesalahannya,” Itulah kata-kata terakhir ibunya kepada Indah untuk disampaikan kepadanya.

Robby merasa bahwa ia adalah orang yang paling beruntung di dunia ini.  Tak ada cinta yang didapatnya seperti cinta keluarganya.  Pengampunan mereka terhadap dirinya tak akan disia-siakan lagi.  Bahkan mereka semua tak mau mengingat-ingat lagi kesalahannya setiap kali ia ingin minta maaf dan menceritakan kejahatannya.

“Jangan mengingat-ingat lagi kesalahan itu,karena kami juga telah melupakannya,” Kata wanita paling cantik yang dimilikinya sekarang.  Indah,istrinya.  Namanya seindah cintanya.

About firdausgarden

Pengusaha bidang agribisnis dan budayawan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: